News

List

SMPN 10 Surabaya Jauh Sebelumnya, Sudah Punya Akses Point untuk Belajar Online

13 Juli 2020 17:41

Mulai Senin (13/7/2020) ini pembelajaran sekolah dibuka kembali. Wilayah Surabaya masih menggunakan metode pembelajaran daring (online) di rumah. Metode daring ini rupanya sudah tidak lagi mengalami kendala berarti, kecuali hanya beberapa ketimpangan kecil informasi, menyangkut anak didik baru, tingkat SD-SMP. Iya kah?

Pembelajaran metode daring langsung disambut para pelajar, nyaris tanpa kendala karena rata-rata sekolah sudah menerapkan pembelajaran online maupun jarak jauh sejak sebelum pandemi Covid-19.

SMPN 10 Surabaya, misalnya, kata M Masykur Hs, Kepala Sekolah, sudah membiasakan pengajaran secara online sejak dua tahun lalu. “Seiring menerapkan pengajaran tatap muka saat kondisi normal lalu, secara bersamaan kami juga melakukan pembelajaran dengan cara online,” ungkapnya kepaa julajuli.com, Senin (13/7/2020).

“Bagi anak didik baru juga sudah dibiasakan berhadapan dengan cara online sejak PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru). Mulai pendaftaran, penerimaan, MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah), dilakukan tanpa tatap muka alias semua secara online,” katanya.

Selama tiga hari MPLS, lanjutnya, bersama anak didik menggunakan Google Meet, karena bisa diikuti hingga 250 peserta. “Karena peserta didik baru kita sebanyak 360 siswa, jadi kita bagi dua. Satu chanel meliputi 5 kelas dan satu chanel lagi untuk 4 kelas,” jelasnya.

Beberapa ketimpangan yang sempat terjadi, diakui, lebih disebabkan oleh faktor komunikasi. Seperti ada peserta didik yang menggunakan nomor ponsel yang bukan miliknya, atau pinjam punya tetangganya. Sehingga, ketika waktu sosialisasi metode kepada peserta didik, tidak langsung sampai kepada peserta didik dan menimbulkan misinformasi.

“Dan selama tiga hari ke depan, kita sinkronkan semua jalur komunikasi antara guru, orangtua, dan peserta didik, sehingga dengan sendirinya tidak akan terjadi lagi misinformasi,” tegasnya.

Selain urusan daring, SMP 10 Surabaya juga mengikuti sesuai anjuran protokol kesehatan di lingkungan sekolah. Mulai dari penyediaan tempat untuk cuci tangan, kontrol thermogun, hingga penyemprotan disinfektan di seluruh area sekolah. Untuk ruang-ruang kelas, diakui, belum dilakukan protokol karena belum ada kegiatan kelas.